Harian Suara Jakarta.Com
Jakarta, Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia ( GAPMMI)
menegaskan bahwa industri makanan dan minuman (mamin) saat ini aktif mencari dan menjajaki alternatif bahan baku kemasan. Langkah strategis ini diambil guna merespon lonjakan harga bahan baku plastik yang meroket akibat gangguan rantai pasok global.
Wakil Ketua Umum GAPMMI, Irwan Santo Wijaya, mengungkapkan bahwa langkah ini ditempuh melalui koordinasi bersama sejumlah Asosiasi dan produsen kemasan demi mendapatkan bahan substitusi yang tetap menjaga kualitas serta keamanan produk.
“Sinergi lintas sektor ini diharapkan dapat memetakan material baru yang efisien dalam waktu singkat, “Katanya kepada media di kawasan JIExpo, Kemayoran pada rabu 3/6/2026.
Irwan, menambahkan jika tekanan biaya kemasan belum mereda, industri harus memperluas inovasi dengan mengoptimalkan ukuran, desain, serta variasi kemasan.
Langkah ini dilakukan tanpa memangkas manfaat produk demi menjaga kualitas yang diterima konsumen.
Irwan menekankan bahwa transisi ke material alternatif harus lolos uji kelayakan yang ketat agar aspek kualitas, daya simpan produk, serta keamanan pangan tetap terjaga sepenuhnya.
Atas dasar tersebut diatas implementasi secara luas baru akan dilakukan setelah material lolos tahap pengujian laboratorium dan verifikasi teknis yang menjadi prioritas utama industri.
GAPMMI memperkirakan pelaku industri mampu mengeksekusi sejumlah strategi penyesuaian dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan mendatang.
Maka dari itu kreativitas dan inovasi mutlak diperlukan demi menjaga daya tahan industri serta menjamin ketersediaan produk mamin yang dibutuhkan.
” Inovasi menjadi kunci industri untuk bertahan dan menjaga ketersediaan produk makin bagi masyarakat,” tambahnya.
Di tengah tekanan biaya saat ini GAPMMI menegaskan empat prinsip utama industri: menjaga kualitas dan nutrisi, mempertahankan harga yang terjangkau bagi daya beli masyarakat, menjamin ketersediaan produk di pasar, serta memenuhi kebutuhan publik secara berkelanjutan.
Intinya, “meskipun situasi ekonomi sedang sulit dan biaya produksi membengkak, industri berjanji tidak akan mengorbankan konsumen. Mereka akan tetap menjual produk yang bagus, sehat, murah, mudah dari dan selalu ada di pasar “pungkas irwan.

