Harian Suara Jakarta.Com
Jakarta, Industri Kemasan nasional kini sedang menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik global. Khususnya krisis di kawasan Timur Tengah yang berdampak signifikan terhadap pasokan dan bahan baku plastik dalam negeri.
Kondisi ini memicu keprihatinan sekaligus mendorong aksi nyata dari para pelaku industri pengemasan tanah air.
Dr. Teguh Maianto, MM, Ketua Umum dan CEO Packaging Development Federation (PDF) menekankan bahwa inovasi dan
pengembangan produk kemasan merupakan strategi kunci bagi industri kemasan domestik untuk tetap kompetitif saat harga bahan baku plastik dunia melonjakm
Menurut Teguh, industri kemasan kini berada dalam situasi sulit akibat ketidakstabilan geopolitik dunia, terutama krisis Timur Tengah yang berdampak langsung pada stabilitas harga dan pasukan bahan baku.
Ketergantungan impor dari kawasan tersebut untuk bahan baku plastik nasional- khususnya jenis Polyethylene dan Polypropylene mencapai 60-70 persen.
Hal ini memicu tren kenaikan harga yg tajam dalam beberapa tahun terakhir, padahal sebelumnya harga polyethylene hanya berada di angka 22 ribu sampai 25 ribu rupiah.
Dengan harga saat ini yang menembus 40 ribu – 50 ribu per kilogram terjadi kenaikan sekitarn 70-100 persen, kondisi mendesak ini memaksa industri menciptakan berbagai inovasi dan terobosan.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah perusahaan industri mulai memperluas jaringan pemasok bahan baku ke negara alternatif termasuk cina. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi terhadap pasukan dari wilayah Timur Tengah.
Teguh menegaskan bahwa tanpa packaging development yang berkelanjutan, perusahaan kemasan berisiko kalah bersaing akibat perubahan pasar dan tingginya biaya produksi.
Di tengah situasi yang menantang ini, inovasi merupakan kunci utama. Tanpa adanya pengembangan produk dan terobosan baru, perusahaan akan menghadapi kesulitan besar untuk sekadar bertahan hidup dan melakukan ekspansi bisnis, katanya
Teguh menaruh harapan besar agar PDF semakin aktif mendongkrak industri kemasan nasional.
Memiliki 280 juta jiwa, Indonesia mengukuhkan diri sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara.Guna menangkap potensi raksasa di bidang flexible packaging dan teknologi kemasan ini, inovasi kolaborasi dan peningkatan kompetensi serta peningkatan mutu SDM.
Menurut penjelasan Teguh, Packaging Development Federation ( PDF) kini diperkuat sekitar 250 anggota yang merepresentasikan berbagai lini industri.Ekosistem yang
beragam mencakup pemilik merek, perusahaan konverter kemasan, manufaktur mesin, produsen bahan baku institusi perguruan tinggi hingga sektor pendukung lainnya yang tersebar di wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo, Bandung, Riau dan Medan.
Teguh menekankan bahwa peran utama PDF adalah memfasilitasi kolaborasi dan edukasi bagi seluruh pelaku industri kemasan nasional.
“Wadah ini menjadi titik temu bagi segenap ekosistem industri kemasan mulai dari sektor pemilik merek, konverter pabrikan kemasan, produsen mesin hingga pihak Perguruan tinggi,” tambah Teguh.
Berbekal edukasi, pelatihan, workshop hingga forum diskusi kami terus memicu lahirnya terobosan baru dan pengembangan kemasan yang berdaya saing tinggi, pungkas Teguh.

